Budaya Karo

Ikon

Buku Baru

Setelah berpetualang seminggu di Medan beberapa hari yang lalu saya berhasil mendapat beberapa buku mengenai bahasa Karo

  • Bangun, K., Isa, S., Bangun, P., and Widayati, D. (1999). Kata Tugas Bahasa Karo. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
    [ISBN: 979-459-977-8]
  • Ginting, S. K., Ginting, E. P., and Surbakti, B. (1996). Kamus Karo Indonesia. Yayasan Merga Silima, Medan.
  • Yusmaniar, Lubis, H. H., Simorangkir, S., and Surbakti, B. (1987). Struktur Bahasa Karo. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Nanti setelah saya baca semua, akan saya masukkan beberapa tulisan mengenai bukunya.

Filed under: Referensi, Tata Bahasa

Bahasa Batak Karo di Ethnologue

Ethnologue.com adalah sebuah situs yang berisi katalog bahasa-bahasa etnis di dunia. Berikut entry untuk Bahasa Batak Karo.

Batak Karo

A language of Indonesia (Sumatra)

ISO 639-3btx

Population 600,000 (1991 UBS).
Region Central and north, west and northwest of Lake Toba.
Language map Indonesia, Sumatra, reference number 6
Alternate names Karo Batak
Dialects Singkil.
Classification Austronesian, Malayo-Polynesian, Northwest Sumatra-Barrier Islands, Batak, Northern
Language development Grammar. Bible: 1987–1995.
Writing system Batak script. Latin script.
Comments Christian, traditional religion.

Filed under: Bahasa, Referensi, , , ,

Erkata Bedil

Erkata Bedil adalah sebuah lagu karangan Djaga Depari yang mengambil setting di jaman peperangan. Ada pembahasan yang sangat bagus yang dapat dilihat di sini. Liriknya benar-benar menyentuh :cry: . Lirik diambil dari sini.

Erkata bedil i kota medan turang la megogo
Ngataken kami maju ngelawan ari oh turang
Tading ijenda si turang besan turang la megogo
rajin kujuma si muat nakan ari o turang

O turang la megogo (kai aku nindu turang)
Uga sibahan arihta
Arih arihta tetap ersada ari o turang

Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
Petetap ukur ola melantar ari o turang
Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
Sampang nge pagi simalem ukur ari o turang
Oh turang la megogo (kai nindu ari turang)
Uga sibaha arih-arihta
Arih-arihta tetap ersada ari o turang

Adina surung tading kena lebe turang la megogo
Pasarna licin bentengna wajan ari o turang

Adina surung atendu ngena turang la megogo
Tantangi cincin man tanda mata ari o turang

O turang la megogo kai aku nindu turang
Uga sibahan arih ta arih-arihta tetap ersada ari o turang] 2x

Tantangi cincin man tanda mata ari o turang
Oh turang la megogo

Filed under: Lagu, Musik, ,

Dialek Bahasa Karo

Dialek dalam Bahasa Karo umumnya dikenal dalam 3 buah pembagian

  1. Dialek Gunung-Gunung (Cakap Karo Gunung-Gunung)
    Dialek ini digunakan di daerah Kecamatan Munte, Juhar, Tiga Binanga, Kutabuluh, dan Mardinding.
    dialek1
  2. Dialek Kabanjahe (Cakap Orang Julu)
    Dialek ini digunakan di daerah Kecamatan Kabanjahe, Tiga Panah, Barus jahe, Simpang Empat, dan Payung.
    dialek2
  3. Dialek Jahe-jahe (Cakap Kalak Karo Jahe)
    Dialek ini digunakan di Kecamatan Pancur Batu, Biru-Biru, Sibolangit, Lau Bekerei, Namo Rambe (termasuk kabupaten Deli Serdang) dan di daerah Kabupaten Langkat (Hulu) sperti Selapan, Kuala, Bahorok, dan sebagainya.
    dialek3

peta

(Akan dilanjutkan pada tulisan selanjutnya)


Diambil dari Bangun, Tridah. Adat dan Upacara Perkawinan Masyarakat Batak Karo. Jakarta : Kesaint Blanc, 1986.

Filed under: Bahasa, Tata Bahasa, , , , ,

Religi Rakyat Karo

Dalam hal alam pemikiran dan kepercayaan, orang Karo (yang belum memeluk agama Islam atau Kristen) erkiniteken (percaya) akan adanya Dibata (Tuhan) sebagai maha pencipta segala yang ada di alam raya dan dunia. Menurut kepercayaan tersebut Dibata yang menguasai segalanya itu terdiri dari

  1. Dibata Idatas atau Guru Butara Atas yang menguasai alam raya/langit
  2. Dibata Itengah atau Tuan Paduka Niaji yang menguasai bumi atau dunia
  3. Dibata Iteruh atau Tuan Banua Koling yang menguasai di bawah atau di dalam bumi

Dibata ini disembah agar manusia mendapatkan keselamatan, jauh dari marabahaya dan mendapatkan kelimpahan rezeki. Mereka pun percaya adanya tenaga gaib yaitu berupa kekuatan yang berkedudukan di batu-batu besar, kayu besar, sungai, gunung, gua, atau tempat-tempat lain. Tempat inilah yang dikeramatkan. Dan apabila tenaga gaib yang merupakan kekuatan perkasa dari maha pencipta -dalam hal ini Dibata yang menguasai baik alam raya/langit, dunia/bumi, atapun di dalam tanah- disembah maka permintaan akan terkabul. Karena itu masyarakat yang berkepercayaan demikian melakukan berbagai variasi untuk melakukan penyembahan.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Religi, , ,

Terang Bulan

Lagu ini berbeda dengan lagu Terang Bulan yang jadi lagu kebangsaan Malaysia. Lagu ini diciptakan oleh Djaga Depari, komponis Karo terkenal yang juga menciptakan lagu Piso Surit.


endeken kami lagu siterang bulan turang la megogo
endeken kami lagu siterang bulan turang la megogo
tare-tarena bintang mergaris-garis

pala-palana kita nggo erkuan turang la megogo
pala-palana kita nggo erkuan turang la megogo
nde sirang ningen pagi kami ngandung tertangis
enda adinga sirang pagi kami ngandung tertangis

lagu siterang bulan turang morah ate
lagu siterang bulan bulanna meganjang
enggo kita erkuan turang morah ate
nggo kita erkuan ulanai kita sirang
ula kita sirang

Dilihat dari liriknya memang menyiratkan seseorang yang sangat rindu dengan orang yang dicintainya. ^_^ Belakangan saya tidak sengaja lewat di depan Unit Kesenian Sumatera Utara ITB dan menyaksikan mereka latihan Tari Terang Bulan. Mungkin lain kali saya coba merekam dan menaruhnya di sini.

Filed under: Lagu, Musik, , , , ,

Sistem Kekerabatan Masyarakat Karo

Berikut adalah sistem kekerabatan di masyarakat Karo atau sering disebut Daliken Sitelu atau Rakut Sitelu. Tulisan ini disadur dari makalah berjudul “Daliken Si Telu dan Solusi Masalah Sosial Pada Masyarakat Karo : Kajian Sistem Pengendalian Sosial” oleh Drs. Pertampilan Brahmana, Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Secara etimologis, daliken Sitelu berarti tungku yang tiga (Daliken = batu tungku, Si = yang, Telu tiga). Arti ini menunjuk pada kenyataan bahwa untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak lepas dari yang namanya tungku untuk menyalakan api (memasak). Lalu Rakut Sitelu berarti ikatan yang tiga. Artinya bahwa setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan ini. Namun ada pula yang mengartikannya sebagai sangkep nggeluh (kelengkapan hidup).

Menurut Drs. Pertampilan Brahmana, konsep ini tidak hanya ada pada masyarakat Karo, tetapi juga ada dalam masyarakat Toba dan Mandailing dengan istilah Dalihan Na Tolu juga masyarakat NTT dengan istilah Lika Telo

Unsur Daliken Sitelu ini adalah

  • Kalimbubu (Hula-hula (Toba), Mora (Mandailing))
  • Sembuyak/Senina (Dongan sabutuha (Toba), Kahanggi (Mandailing))
  • Anak Beru (Boru (Toba, Mandailing))

Setiap anggota masyarakat Karo dapat berlaku baik sebagai kalimbubu, senina/sembuyak, anakberu, tergantung pada situasi dan kondisi saat itu.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Lain-Lain, , , , , ,

Piso Surit

Piso Surit adalah salah satu lagu berbahasa Karo. Ini adalah salah satu lagu yang sebenernya harusnya hampir semua orang Karo tau. Beberapa orang di luar Karo salah kaprah dengan mengira lagu ini adalah lagu tradisional Aceh. Beberapa juga mengira Piso Surit adalah senjata tradisional dari suku Karo. Piso Surit adalah nama sejenis burung yang sering terdengar bernyanyi di sekitar sawah. Kicauannya konon terdengar sendu dan memanggil-manggil, “Piso surit.. piso surit…
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Lagu, Musik, , , ,

Sifat dan Tabiat Orang Karo

Berikut adalah rangkuman dari sebuah artikel berjudul “Sifat dan Tabiat Orang Karo” yang ditulis oleh Drs. Tridah Bangun. Kebetulan artikel tersebut diterbitkan dalam kumpulan artikel-artikel tentang masyarakat Karo dengan judul yang sama (Bangun, Tridah. Sifat dan Tabiat Orang Karo. Yayasan Lau Simalem, Jakarta, 2006).

Tulisan beliau tersebut juga merupakan hasil wawancara terhadap 3 orang pakar adat istiadat Karo yakni (alm.) Nulbasi Bangun, (alm.) Sental Sinuraya, dan (alm.) Gancih Tarigan dan hasil-hasil penggalian tulisan-tulisan dengan tema serupa yang sudah ditulis sejak lama. Ada paling tidak ditulis pada artikel tersebut 15 sifat-sifat yang umum dimiliki oleh manusia Karo.

Sifat-sifat yang dituliskan dalam artikel tersebut yang sudah diringkas antara lain :

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Lain-Lain, ,

Adat dan Upacara Perkawinan Masyarakat Batak Karo

perkawinanadat

Bangun, Tridah. 1986.  Adat dan Upacara Perkawinan Masyarakat Batak Karo. Jakarta : Kesaint Blanc.

Daftar Isi

  • Bab I Identifikasi Masyarakat Karo
  • Bab II Adat Perkawinan
  • Bab III Upacara Perkawinan
  • Bab IV Persoalan-persoalan yang timbu dalam keluarga
  • Bab V Analisa tentang Adat Perkawinan

Filed under: Perkawinan, Referensi, Upacara, , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.